بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Terima Kasih

Isnin, 31 Januari 2011

Dosa Besar dan Dosa Kecil

“Speeches For An Inquiring Mind”
Author by Imtiaz Ahmad M. Sc., M. Phil. (London)
Translated by Ir. Gusti Noor Barliandjaja and Muhammad Arifin M.A. (Madinah)


DOSA BESAR DAN DOSA KECIL

Allah SWT berfirman didalam Al-Qur’an Surat An-Nisaa’ 31,

Apabila kamu menjauhi dosa-dosa besar yang telah dilarang bagimu untuk mengerjakannya, maka Kami hapuskan dosa-dosamu yang kecil dan Kami masukkan kamu kedalam tempat yang mulia (Syurga).

Dari ayat di atas, jelas terdapat dua macam dosa, yakni dosa besar dan dosa kecil. Jelas pula bahwa Allah SWT berjanji bahwa jika seorang hamba menjauhkan diri dari dosa-dosa besar, maka Allah SWT memaafkan kesalahan/dosa kecil yang pernah dilakukannya. Haruslah kita ingat bahwa terdapat prasyarat untuk terpenuhinya (janji Allah SWT itu) yakni, semua yang fardlu (wajib) seperti halnya shalat, zakat, dan puasa, harus tetap dikerjakan dengan tertib dan teratur, sambil terus berusaha menjauhi dosa-dosa besar, sebab meninggalkan yang fardlu itupun tergolong melakukan dosa besar. Jadi, jika seorang hamba melaksanakan semua yang diwajibkan (fardlu) dan meninggalkan perbuatan dosa besar maka Allah SWT akan memaafkan dosa-dosa kecilnya.

Apakah dosa itu? Apa sajakah dosa-dosa kecil itu? Dan, apa saja pulakah yang tergolong dosa-dosa besar?

Dosa adalah segala perbuatan yang bertentangan dengan kehendak dan perintah Allah SWT. Sampai disini belum dibedakan besar kecilnya dosa.
Abdullah bin Abbas berkata,

“ Setiap perbuatan menentang ajaran Islam adalah dosa besar.”

Oleh karena itu, jika dosa-dosa kecil dilakukan berulang-ulang, secara sembrono (serampangan), dan dikerjakan dengan terang-terangan, maka akan terangkum menjadi suatu dosa besar. Seorang ulama menerangkan pengaruh-pengaruh dosa kecil dan dosa besar dengan contoh berikut ini. Ia mengibaratkan dengan perbandingan sengatan kalajengking kecil dengan kalajengking besar. Juga ibarat rasa panas terbakar api kecil dibanding dengan terbakar api yang besar. Semuanya terasa sangat sakit, namun akibat yang ditimbulkan oleh yang besar menyisakan luka yang lebih parah. Begitu juga, kedua jenis dosa itu sama berbahayanya, akan tetapi kerusakan yang diderita akibat dosa besar lebih parah daripada dosa kecil.

Muhammad bin Ka’ab Kuradzi berkata, “Ibadah yang terbaik kepada Allah SWT adalah menjauhi segala dosa. Allah SWT tidak akan menerima shalat ataupun ibadah yang lain dari seseorang yang tidak menjauhi perbuatan dosa.” Demikian juga, Fudhail bin 'Iyyad berkata, “Semakin dianggap kecil suatu dosa oleh seseorang, semakin menjadi besar dosa itu di hadapan Allah SWT.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketika seorang mukmin berbuat suatu dosa, dosa itu menjadi sebuah noda hitam pada hatinya. Jika ia menyesalinya (memohon ampunan) hilanglah noda itu. Jika ia tidak menyesali perbuatan itu maka noda itu akan membesar dan membesar sehingga menutupi seluruh hatinya.” Allah SWT menjelaskan dalam firman-Nya, Surat Al-Muthaffifin Ayat 14.

"Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menutupi hati mereka"

Bilamana hati telah sepenuhnya tertutup oleh noda, tak satupun petunjuk dapat menembus kedalam hati dan orang sedemikian itu tidak akan mendapat manfaat dari peringatan-peringatan yang terdapat didalam Al-Qur’an. Hal ini ditekankan berulang-ulang didalam Al-Qur’an, bahwa Al-Qur’an adalah peringatan bagi mereka yang sadar atas adanya Tuhan dan terbuka hatinya untuk menerima petunjuk.

Marilah kita mengartikan dosa besar sesuai dengan cahaya petunjuk dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menurut ulama', setiap dosa yang telah ditetapkan siksanya didalam Al-Qur’an; tentu saja Allah SWT yang menetapkan hal itu; atau dimana terdapat ancaman api neraka, tergolong pada dosa-dosa besar. Maka, sebagaimana telah diuraikan terdahulu dosa sekecil apapun jika selalu dilakukan secara sembrono dan terang-terangan akan berubah menjadi dosa besar. Seseorang menyebutkan kepada Ibnu Abbas RA bahwa hanya ada tujuh dosa besar. Ibnu Abbaspun mengatakan tidak hanya tujuh. Sebaiknya katakan saja tujuh ratus. Adapun Imam Ibnu Hajar Makki RA telah menguraikan daftar dosa besar sekaligus dengan penjelasannya yang terperinci didalam buku beliau, Kitabuzzawajir. Terdapat 468 (empat ratus enam puluh delapan) dosa besar, ini hanya ditinjau dari segi ketidak-patuhan terhadap Allah SWT.

Bagaimanakah termaafkannya sebuah dosa kecil? Sebagai contoh terhapusnya dosa-dosa kecil dijelaskan didalam sebuah Hadits yang menggambarkan sebagai berikut: Ketika seseorang berwudlu’, membasuh bagian-bagian kepala dan anggota badan, maka dosa-dosa yang berhubungan dengan bagian-bagian yang dibasuhnya itu pun hanyut oleh air wudlu bagaikan dedaunan kering di pepohonan yang berguguran diterpa angin. Ibaratnya, ketika kita berkumur-kumur maka terhapuslah dosa yang berasal dari lidah kita, ketika kita membasuh kaki maka terhapus dosa yang terjadi dengan melibatkan kaki-kaki kita. Pada waktu kita melangkahkan kaki menuju Masjid setelah berwudlu, setiap langkah kaki menjadi tebusan bagi dosa-dosa kecil yang telah kita perbuat. Adapun dosa besar tidak bisa kita hapuskan hanya dengan berwudlu ataupun mengerjakan shalat. Penghapusan dosa besar dilakukan dengan penyesalan yang tulus dan bersungguh-sunguh. Penyesalan atau taubat terdiri atas sedikitnya tiga unsur.

Pertama, orang yang berdosa besar harus mengenali dosanya dan mengakui bahwa ia telah berdosa.

Ke-dua, ia harus berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi.

Ke-tiga, haruslah ia merasa malu dengan perbuatannya itu dan secara tulus-ikhlas memohon ampunan-Nya.

Karena itulah jika orang yang mengerjakan shalat dan menjalankan puasa namun masih melibatkan diri dalam perbuatan dosa besar, niscaya Allah SWT tidak akan mengampuni dosa-dosanya, baik yang besar ataupun yang kecil. Nabi Muhammad SAW menyebutkan jumlah dosa besar itu berlainan jumlahnya tergantung pada waktu dan situasinya. Oleh karenanya para ulama sepakat bahwa tidak ada angka pasti perihal macam dan banyaknya dosa-dosa besar.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Aku beritahukan kepadamu tiga macam dosa yang paling besar, yakni: Mengada-adakan sekutu bagi Allah SWT, tidak patuh kepada kedua orangtuamu, dan memberikan kesaksian palsu.” (Bukhari dan Muslim)

Masih dari Hadits Bukhari dan Muslim, seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW perihal dosa besar. Jawaban beliau adalah menyekutukan Allah SWT. Kemudian dosa besar apakan yang berikutnya. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Membunuh anak-anak karena khawatir atas tanggung-jawab memberi makan.” Kemudian orang itu masih bertanya dosa apalagi yang berikutnya. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Berzina dengan istri tetangga.” Perlu diingat bahwa berzina saja sudah merupakan dosa besar. Disamping itu, seorang mukmin wajib melindungi keluarga tetangganya. Maka, berbuat zina dengan tetangga berarti melakukan kejahatan ganda.

Nabi Muhammad SAW juga bersabda, “Mencaci orang-tua sendiri adalah dosa besar.” Dengan rendah-hati sahabat bertanya, “Mungkinkah seseorang mencaci orang-tuanya sendiri?” Beliau menjawab, “Kamu mencaci orang tua seseorang, kemudian ia berbalik membalas mencaci orang-tuamu.” Jadi, mencaci orang-tua dari orang lain sama saja dengan mencaci orang-tuamu sendiri. (Shahihin)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Menyekutukan Allah SWT, membunuh orang lain tanpa alasan kuat, menyalah-gunakan harta anak yatim, melakukan riba’, melarikan diri dari pertempuran, melemparkan tuduhan (memfitnah) kepada perempuan-perempuan shalihah, tidak taat kepada ibu-bapak, dan tidak menghormati Baitullah, semua itu termasuk dalam kelompok dosa besar.” (Bukhari)

Rasulullah SAW juga bersabda, “Bilamana seseorang melemparkan tuduhan tanpa dasar hanya karena ingin melecehkan orang lain, atau untuk berputus asa terhadap kasih-sayang Allah SWT dan untuk melanggar hukum-hukum waris, itu semua termasuk dosa-dosa besar.” Menurut Hadits lain, menjamak dua shalat dalam satu waktu tanpa alasan yang sah menurut syariah juga merupakan dosa besar. Shalat hendaklah dikerjakan pada waktu-waktu yang telah ditetapkan.

Suatu kali Rasulullah SAW bersabda, “Celakalah orang itu!” Beliau mengulangi sampai tiga kali. Abu Dzar RA pun dengan rendah-hati bertanya, “Siapakah dia Wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Seorang yang sombong, yang mengenakan pakaian begitu panjang sehingga menyentuh tanah, seorang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah SWT lalu diceritakan kepada orang-orang untuk ketenaran dirinya, seorang yang telah lanjut usia namun berzina, seorang yang menduduki jabatan penting namun ia berkhianat, seorang yang telah diberkahi Allah SWT dengan keturunan yang banyak namun ia berlaku sombong, ataupun seorang yang mempertunjukkan ketaatkan kepada Imam (Pemimpin)-nya dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan duniawi.” (Muslim)

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Orang-orang ini tidak akan masuk Surga: orang yang minum khamr (minuman beralkohol), orang yang tidak patuh kepada orang-tuanya, orang yang memutuskan silaturahim dengan saudara-saudaranya tanpa alasan yang benar, orang yang membanggakan dirinya kepada orang lain, orang yang menuruti perbuatan syeitan untuk meramalkan yang belum terjadi dan seorang yang tidak berusaha mencegah keluarganya dari perbuatan-perbuatan asusila (bertentangan dengan moral).” (Nasa’i dan Musnad Ahmad)

Nabi SAW bersabda, “Seorang pengadu-domba tidak akan masuk surga.” (Shahihain)

Saya memohon kepada Allah SWT agar mengampuni dosa-dosa kita yang kecil dan yang besar, dan memberi kita kesanggupan untuk mengikuti petunjuk-Nya yang terdapat didalam Al-Qur’an dan Hadits Rasulullah SAW. Amiin

Tiada ulasan: